Produk Kami

Tentang Petrokimia

Selama ini, minyak bumi lebih banyak dikenal sebagai sumber energi utama di dunia, yang dipakai sebagai bahan bakar atau sumber energi dunia. Padahal, sebagai senyawa kimia hidrokarbon (yang berisikan unsur hidrogen dan karbon) dalam minyak bumi selama berabad-abad diolah untuk menghasilkan produk kimia non-energi.


Produk kimia non energi disebut juga dengan petrokimia, yang akar katanya terdiri dari ʻpetroʼ alias minyak bumi, dan kimia. Saat ini, ada setidaknya 20 bahan kimia hasil minyak bumi yang kemudian dikembangkan lagi menjadi bahan-bahan baku manufaktur modern.


International Energy Agency (IEA) dalam laporan berjudul “The Future of Petrochemicals: Towards More Sustainable Plastics and Fertilizers” (2018) menyebutkan bahwa feedstockpetrokimia kini menyumbang 12% permintaan minyak mentah global. IEA memperkirakan permintaan petrokimia bakal terus meningkat hingga mencapai 30% dari permintaan minyak mentah dunia pada 2030. Angka itu diprediksi terus meningkat, menjadi 50% pada tahun 2050.

Dewan Internasional Asosiasi Kimia (International Council of Chemical Associations/ICCA) mencatat nilai tambah industri kimia sangatlah tinggi: setiap US$ 1 yang dihasilkan bakal berujung pada penciptaan nilai sebesar US$ 4 di perekonomian global. ICCA juga mengestimasikan bahwa aktivitas ekonomi dan produksi barang/jasa yang diciptakan industri kimia nilainya mencapai US$5,7 triliun pada 2017, setara dengan 7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia—yang menurut Bank Dunia mencapai US$ 81,3 triliun (per 2017).

Bertolak belakang dengan kondisi tersebut, Indonesia sebagai salah satu penghasil minyak dan gas bumi sebagai bahan baku petrokimia masih melakukan impor produk petrokimia, tiap tahun impor petrokimia Indonesia bisa mencapai US$ 20 miliar atau setara Rp 284 triliun. Angka itu setara 30% dari total impor nasional. Bahan baku plastik dan kimia organik adalah yang mendominasi impor petrokimia selama bertahun-tahun.

Menyadari hal tersebut, sebagai bagian dari nilai tambah atas kilang BBM yang dibangun dalam rangka mewujudkan kemandirian energi nasional, serta mempertimbangkan potensi ekonomi produk petrokimia, PRPP hadir dengan kilang BBM yang terintegrasi dengan industri petrokimia


Produk GRR Tuban

Kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban merupakan kilang BBM dengan teknologi terkini dengan kapasitas pengolahan crude oil mencapai 300 ribu barel per hari.

Kilang GRR Tuban mampu memproduksi total BBM sejumlah 10,921 kilo ton per tahun serta 5060 kilo ton produk petrokimia dan turunan petrokimia lainnya per tahun.

Kilang Minyak

Produk

Gasoline RON 95

Gasoline RON 98

Jet A1 (Avtur)

Diesel

Sulphur

Metil Tersier Butil Eter (MBTE)

Petrokimia

Produk

HDPE

LLDPE

Polypropylene

Mono Ethylene Glycol

Styrene

Aromatics

batas

Kehadiran PRPP diharapkan memainkan peran di masa depan industri petrokimia

Mengurangi defisit impor produk petrokimia.

Sebagai alternatif suplai material bagi industri plastik.

Mendorong trend idustri plastik dari bahan petrokimia.

Meningkatkan investasi sektor hulu petrokimia di Jawa Tengah dan Jawa Timur.